Malam ini, seperti biasa, antara aku, bayanganku dan sunyiku, bercengkrama di tepian panjang hidup. Kami perbincangkani setiap baris hingga setiap karakter masa. Sementara di luar rintik hujan begitu sibuk mengirimkan pesan – pesan pada tiap perindu yang sedang dibalut keriuh-rendahan rasa pada hatinya.
Mengetikkan karakter per karakter menjadi teramat sulit, karena begitu bercampurnya perasaan, dan begitu dinamisnya perasaan. Kadang sedih teramat sedih, kemudian bahagia tertawa –tawa, semua terjadi begitu cepat. Sangat sulit jika tidak ingin dikatakan mustahil – mewakilkannya ke dalam kata – kata yang hanya disusun dari 26 karakter abjad.
Sesaat ku tengok, di luaran sana, sudah berapa lama manusia hanya sibuk menghasilkan simbolisme – simbolisme yang berbeda untuk kenyataan yang sama, mereka telah menguras seluruh waktu dan tenaganya untuk terus mengulangi dan mengulangi kebodohan dan keterperosokan yang sama, meskipun mereka membungkusnya dengan perlambang-perlambang baru sambil meyakin-yakinkan dirinya atas simbolisme – simbolisme itu
Cinta dijejalkan, dipaksa masuk dalam kata – kata. Dijatuhkan, dijual begitu murah menjadi sebatas ritual – ritual. Cinta telah dikacaubalaukan bentuknya, dihancurkan, diinjak-injak hingga tidak bisa di bedakan lagi, manakah cinta, manakah nafsu, manakah pamrih, manakah ego. Semua bercampur di dalam dunia yang serba materi.
Seharusnya mereka tahu,bahwa mereka yang memuja mata, tidak akan pernah punya penglihatan. Tertipu, tertipu, tertipulah mereka yang mengagung-agungkan matanya
Aku? Tidak, jangan pernah berharap aku melakukan hal yang sama. Jangan pernah berharap aku mengikuti. Karena aku memiliki duniaku sendiri di dalam hatiku, dengan kedaulatan akan perasaannya sendiri, kedaulatan akan aturannya sendiri, kedaulatan akan pemerintahnya sendiri. Yang tidak ada satupun di dunia ini boleh atau bisa mengintervensinya. Apakah itu kamu, kamu ataupun kamu.
Dunia dan isinya sudah usai bagiku. Ruang dan waktu hanyalah menipu. Apalagi sekedar kamu!
Cintaku tak bisa dijejalkan dalam perayaan. Ia sudah megah bahkan sebelum diutarakan. Cintaku tanpa bahasa. Dia sudah menjadi oksigen. Dia ada dimana – mana. Cintaku telah ku ungkapkan dalam setiap gerak, setiap pemikiran, setiap ide, setiap bakti pada kehidupan. Cintaku untuk menjaga, bukan memiliki. Memiliki adalah ego, dan ego bukanlah sifat sejati pecinta. Tuhan, hanya Tuhanlah yang paling berhak untuk memilki.
Duh Gusti Allah, kami adalah makhluk yang Engkau istimewakan, namun yang kami himpun adalah kebodohan, yang kami rayakan tidak lebih dari kebodohan, dan yang kami banggakan tidak jauh dari kebodohan.
Filed under: Bingkai Kata, Keseharian, Perenungan







[...] sedih teramat sedih, kemudian bahagia tertawa –tawa, semua terjadi begitu cepat. Sangat sulit jika tidak ingin dikatakan mustahil – mewakilkannya ke dalam kata – kata yang hanya disusun dari 26 [...]