Setelah sekian lama tertunda, saya akan melanjutkan lagi sambungan serial tulisan saya yang sebelumnya mengenai bantahan terhadap presepsi negatif masyarakat terhadap PLTN. Tidak tahu kenapa tiba – tiba muncul kembali keinginan saya untuk membahas lagi topik ini. Apakah mungkin setelah blog walking ke beberapa blog yang membahas tentang PLTN ya?
Namun apapun alasannya, jemari tangan saya akan terus mengetik pada keyboard ini untuk melanjutkan perjalanan kita ke tulisan saya berikutnya
Bagaimana dengan limbah radioaktif PLTN yang memiliki waktu paruh beratus – ratus tahun?
Pertanyaan ini adalah sebuah isu yang cukup vital, dan merupakan salah satu senjata bagi gerakan yang menolak keberadaan PLTN di Indonesia. Mereka (Aktifis kontra-nuklir, pen) beragumentasi bahwa limbah radioaktif yang dihasilkan PLTN adalah warisan maut bagi generasi mendatang seperti apa yang Prof. Liek Wilardjo bilang. Ini disebabkan limbah radioaktif ini sangat berbahaya bagi keberlangsungan ekologis dan keradioaktifan limbah ini akan bertahan sampai ratusan tahun. Sampai saat ini limbah yang berupa Thorium dan Plutonium ini hanya disimpan secara lestari hingga umur radioaktifnya habis.
Prof. Liek Wilardjo mungkin benar meskipun mengungkapkannya secara berlebihan. Namun mungkin beliau lupa mengatakan bahwa tempat penyimpanan limbah radioaktif untuk satu unit reaktor daya hanyalah seluas satu kali lapangan tenis. Bandingkan dengan industri lain. Dan Mungkin Liek Wilardjo juga lupa bahwa Uranium adalah bahan bakar yang setelah bereaksi akan menghasilkan bahan bakar jenis baru. Tidak hanya untuk senjata nuklir, thorium didalam sampah radioaktif juga dapat diproses kembali menjadi bahan bakar baru, yang menurut ketua ilmuwan Inggris, Sir David King dapat mensuplai kurang lebih 60 % dari total energi listrik yang dibangkitkan di Inggris. dan juga Jika reaktor masa depan dapat mengkonsumsi thorium sebagai bahan bakarnya, maka dapat dipastikan bahwa PLTN akan beroperasi dengan menggunakan cadangan thorium di bumi kita tercinta yang jumlahnya mencapai 3 kali dari jumlah cadangan uranium saat ini.
Apakah SDM indonesia sanggup untuk mengelola PLTN ?
Isu SDM indonesia yang diragukan juga menjadi senjata andalah kaum anti nuklir. Pada tulisan PLTN DAN DISIPLIN ORANG INDONESIA tertulis
Mengoperasikan PLTN butuh kedisiplinan tinggi dan hati-hati, karena teknologi PLTN itu kalau tidak diperlakukan hati-hati akan menjadi sumber bencana. Kalau dibandingkan dengan orang Jepang, jelas kedisiplinan kita sangat kalah jauh. Orang Jepang, tingkat kedisiplinannya sudah sangat diakui sehingga pengelolaan PLTN di negeri Matahari Terbit itu tak terlalu bermasalah. Akan halnya dengan orang Indonesia, kualitas kedisiplinannya masih tanda tanya besar. Bahkan untuk hal-hal kecil saja orang Indonesia tak punya kedisiplinan. Buang sampah sembarangan, pelanggaran lalu lintas, korupsi yang merajalela, pungutan liar, merupakan beberapa sikap dan perilaku yang sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan pelanggaran peraturan lalu lintas oleh pengguna jalan raya bisa dikompromikan dengan uang 20.000, 50.000 sampai 100.000, tergantung berat atau tidaknya jenis pelanggaran itu. Ironis memang.
Tulisan ini dan semacamnya mungkin memang didasari atas realita dari masih kurangnya tingkat kedisiplinan bangsa indonesia. Namun ini tentu tidak bisa dijadikan senjata untuk mengklaim bahwa semua warga negara indonesia memiliki kedisiplinan dan kemampuan yang kurang. Pada tulisan saya yang sebelumnya sebenarnya sudah bisa menjawab dan mematahkan keraguan akan mutu SDM kita. Ini terbukti dengan kemampuan anak bangsa kita yang sudah terlatih dan berpengalaman untuk mengelola tiga reaktor riset dan tidak ada insiden berarti dari pengelolalan ketiga reaktor tersebut. Dan kita perlu mengetahui bahwa pengoperasian reaktor penelitian adalah lebih rumit ketimbang mengoperasikan reaktor daya.
Saya juga ingin menambahkan bahwa PLTN yang ada sekarang ini semuanya sudah full computerized . Sehingga tidak memerlukan pengawasan yang berlebihan seperti yang dicemaskan masyarakat. PLTN sekarang sudah memungkinkan untuk shut down secara otomatis.
Tragedi Three Mile Island dan Reaktor Kashiwazaki adalah bukti amannya sistem PLTN saat ini. Pada PLTN Three Mile Island unit 2, kecelakaan yang terjadi sangat serius bahkan sampai menyebabkan teras reaktor hancur akibat kekurangan air pendingin. Namun, pengungkung utama sukses membuat radiasi yang keluar ke lingkungan hanya sampai 1 % saja. Pada PLTN Kashiwazaki, ketika terjadi gempa beberapa reaktor langsung shut down secara otomatis. Kalaupun ada radiasi yang keluar ke lingkungan, levelnya masih termasuk low level radioactive yang bahkan masih lebih aman daripada radiasi alami yang kita terima setiap harinya dari lingkungan . Sementara itu, kejadian pada PLTN Chernobyl adalah suatu anomali. Pada PLTN tersebut, terjadi suatu uji coba yang tidak sesuai prosedur oleh 2 orang ahli listrik (bukan ahli nuklir) dimana sistem reaktor dicoba untuk bekerja pada daya yang sangat rendah. Akibatnya, terjadi ledakan disertai kenaikan daya yang tidak terkendali.
(Mungkin) Bersambung…
Sumber :
Filed under: Energi Nuklir, Fisika, Sains dan Teknologi , Fisika, IPTEK, ketenaganukliran, limbah, Nuklir, PLTN, radioaktif








Untuk Mas Tedy, thx bgt udah mengutip tulisan saya, tapi saya perlu meluruskan, saya bukannya anti nuklir, karena saya tau, teknologi nuklir itu banyak manfaatnya, terutama dalam bidang kedokteran, hingga pemenuhan kebutuhan akan energi yang makin seret dari waktu ke waktu, yang cuma saya permasalahkan adalah kesiapan kita untuk menerapkan kedisplinan dalam mengelola teknologi tersebut. Memang tak semua orang kita berperilaku tak disiplin, masih banyak juga kok yang disiplin meski masih lebih banyak yang bersikap seenaknya. Saya cuma khawatir saja jika sikap tak disiplin dan teledor itu merambah orang-orang yang akan mengelola teknologi nuklir itu. Jika kita yakin dengan sikap kita, dan kedisplinan kita, it’s okay, nuklir, welcome aboard.
@abdi nst
hehe
Baiklah dengan demikian tulisan di atas saya ralat
bahwa tulisan PLTN DAN DISIPLIN ORANG INDONESIA bukanlah tulisan seorang anti Nuklir
maaf atas kesalahannya
saya juga coba meluruskan mas ttg presepsi orang ttg nuklir mas
baiklah kita buktikan yah..kalo bangsa kita mampu