Wuih..Sudah tiga hari Ujian Akhir Semester ini saya jalani
. Alhamdulillah selama ini masih berjalan lancar – lancar saja. Masa – masa ujian seperti ini sebenarnya mengingatkan saya dengan masa – masa ujian ketika SMA dulu
. Waktu itu selain belajar untuk mempersiapkan ujian semester, saya juga sibuk membuat contekan untuk persiapan pada saat ujian
, terutama ketika mata pelajaran fisika yang bikin pusing tujuh keliling.
Namun situasinya menjadi lain sekarang, kala sudah menginjak bangku kuliah, rasanya malu jika masih membuat contekan untuk ujian. Malu kepada siapa? Malu kepada diri sendiri tentunya. Rasanya seperti melakukan sebuah tindakan seorang pecundang. Saya kemudian juga terpikir, bagaimana jika generasi muda sekarang sudah terbiasa melakukan tindakan curang seperti ini? Bagaimana nanti jika mereka mendapat amanah menjadi pemimpin atau orang besar di negeri ini?
Akankah “kebiasaan” masa – masa SMA ini akan terbawa?
Tentu sudah banyak mahasiswa yang turun ke jalan meneriakkan perubahan dan reformasi pada pemerintah. Namun masih adakah yang meneriakkan di dalam hatinya untuk mereformasi dirinya? Bukankah kata mereka, mahasiswa itu adalah sebuah “agen perubahan”? Lalu jika mereka tetap berkutat dengan kecurangan itu, bagaimana mereka bisa menjadi “agen perubahan”? Bukankah katanya Mahasiswa itu “generasi penerus bangsa”? Lalu akan dibawa kemanakah negeri ini jika tindakan curang tersebut masih membudaya?
Itulah yang membuat saya malu jika harus membuat contekan saat ujian. Malu terhadap diri sendiri, malu kepada orang tua, dan malu kepada mereka yang tidak seberuntung saya – yang bisa menikmati apa yang disebut “Kuliah” ini. Malu karena melakukan tindakan yang tidak gentle. Alhamdulillah, selama saya berkuliah disini, selama itu pula saya masih teguh untuk memegang prinsip ini, untuk berusaha jujur saat ujian.
Nampaknya budaya malulah yang rasanya masih kurang di negeri ini. Seharusnya “malu” bisa dijadikan sebuah tradisi bangsa, layaknya beraneka ragam tradisi dan budaya di indonesia yang tak terhitung jumlahnya. Mungkin sudah saatnya “malu” ini ditanamkan kepada generasi muda kita, Bahkan semenjak dini seharusnya, anak – anak sudah mengenal “tradisi malu” ini, mengingat degradasi Moral yang sudah akut di negeri ini. Seandainya bukan kita yang merubahnya? lalu siapa lagi?
Filed under: Keseharian, Perenungan, Sosial Politik , budaya, curang, korupsi, Mahasiswa, malu, mencontek, negara, Pendidikan, ujian akhir semester








wah….sayah malah herman, aih….heran….ada loch temen sayah sendiri, nyiapin contekan, malam sebelum ujian….padahal calon guru…..duh2….maok jadih apa generasi mendatang….
@Abeeayang™
wah…sapa tu namanye bang?
kalo ntar beneran jadi guru
trus muridnya ketauan nyontek
kan bisa dijadiin senjata tuh
muridnya pasti bilang :
Lah bapak dulu juga suka nyontek
padahal Guru itu kan digugu lan ditiru yah?
numpang lewat