Ketika saya berjalan – jalan keliling jogja dengan menggunakan TransJogja, saya menyempatkan berkunjung di toko buku Gramedia. Hal yang lain saya temui adalah di depan toko tersebut terdapat dua orang berbaju hijau mengaku dirinya dari greenpeace sedang sibuk membagikan brosur kepada pengunjung yang akan masuk gramedia. Sayapun menyempatkan melihat – lihat stand mereka, ketika saya mendekat ke stand mereka, seorang berbaju hijaupun menghampiri saya, dia memberikan selebaran sembari mengajak saya untuk menjadi sponsor dari greenpeace, sayapun hanya tersenyum kecil mendengarya, sembari membuka – buka buku yang mereka punya. Diantaranya terdapat foto kampenye menolak PLTN, dimana disana terdapat masyarakat jepara yang difoto dari helikopter tengah berjejer membentuk kalimat “TOLAK PLTN” dan lambang kincir angin diatasnya.
Melihat inipun saya tersenyum pahit. kenapa? Mungkin menurut saya adalah wajar jika orang menolak PLTN karena keawaman mereka tentang PLTN. Mungkin bayangan orang awam tentang nuklir adalah sesuatu yang selalu mengerikan, ini adalah wajar karena ketidak tahuan mereka tentang nuklir. Namun yang saya tidak sukai adalah ketika orang – orang yang mengatakan dirinya “pro lingkungan” kemudian memberikan propaganda – propaganda yang salah kepada masyarakat awam tentang PLTN, mereka menutup – nutupi fakta sebenarnya dengan membesar – besarkan bahaya tentang PLTN. Entah sengaja atau tidak mereka berusaha memberikan image bahwa PLTN adalah sesuatu yang mengerikan dan patut ditolak.
Disini saya akan mencoba menjawab satu persatu pransangka negatif orang kebanyakan terhadap PLTN, Saya akan menjawab sekedar yang saya bisa, namun semoga ini dapat memberikan gambaran sebenarnya tentang hal ini. Sehingga pandangan masyarakat akan menjadi balance tanpa ada yang ditutup-tutupi
Benarkah jika PLTN meledak, dapat menghancurkan satu kota, bahkan penduduk seluruh pulau jawa bisa diungsikan?
Hukum kekekalan energi mengatakan adalah mustahil jika PLTN mampu meledak seperti ledakan bom atom sehingga satu kota bisa hancur bahkan seluruh penduduk pulau jawa bisa diungsikan. Jadi anggapan tersebut lebih merupakan emosionil dibandingkan logis.
Mungkin pendapat tersebut ada karena orang sering mengasosiasikan PLTN seperti bom atom dan sejenisnya. Seperti dalam Makalah Liek Wilardjo dan Budi Widianarko saat diskusi “Kenapa Harus Nuklir”. Dalam tulisannya Lik Wilarjo menggambarkan PLTN sama dengan bom nuklir yang bisa dikendalikan. Hal serupa juga saya temui dalam beberapa blog yang isinya menolak keberadaan PLTN di Indonesia. Perlu diketahui bahwa pembuatan senjata nuklir memiliki proses yang jauh berbeda dengan industri nuklir untuk keperluan PLTN, sehingga menurut saya adalah salah jika kita mengasosiasikan PLTN dengan senjata nuklir, karena kedua hal tersebut memang berbeda dan tidak dapat diasosiasikan.
Bagaimana dengan resiko keamanan PLTN?
PLTN dapat dikategorikan memiliki insiden dengan kemungkinan yang kecil namun dengan kosenkuensi yang tinggi atau “low probability, high consequences” . Suatu bencana dapat disebut katastrofi jika mengakibatkan sedikitnya 3.000 korban jiwa atau 45.000 orang cedera; maka probabilitas terjadinya katastrofi pada PLTN adalah sangat kecil, yaitu 1 tiap 107 tahun. Di samping katastrofi, insiden-insiden dalam skala lebih kecil yang terjadi di PLTN diperkirakan mengakibatkan kurang lebih 2 korban jiwa tiap 20 juta MWh per tahun listrik Namun kemudian dari sini jangan serta merta menjudge bahwa PLTN tidaklah aman, dan beresiko.
Perlu diketahui bahwa tidak ada satupun dalam kegiatan manusia didunia ini yang tanpa resiko, seperti alat transportasi yaitu pesawat yang memiliki resiko jatuh saat terbang, kapal laut yang memiliki resiko tenggelam saat berlayar dan sebagainya. Begitu pula dengan PLTN, karena sebenarnya tidak hanya PLTN saja yang beresiko. Semua teknologi di dunia ini memiliki resiko tanpa kecuali, begitupula dengan PLTU. Menurut data di AS, sejauh ini teknologi PLTU telah menelan 1.300 korban jiwa dan 40.000 orang cedera sementara untuk PLTN 5.000 orang cedera dan kurang dari 100 korban jiwa. Patut diketahui pula India dan Pakistan, yang mempunyai tingkat kecelakaan kerja yang lebih tinggi dari Indonesia, mampu mempunyai PLTN. Dan sampai sekarang tidak pernah terjadi kecelakaan nuklir. Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Jadi menolak PLTN dengan alasan PLTN beresiko bukanlah sesuatu yang tepat, karena resiko merupakan sebuah sunatullah yang terus ada selama manusia hidup. Karena itulah diperlukan manajemen resiko sehingga resiko yang ada bisa diminimalisir syukur-syukur dapat dihindarkan. Setiap pembangunan Instalasi Nuklir dalam hal ini PLTN tentu harus melalui proses yang ketat dari IAEA, mulai dari konstruksi, sampai pengelolaan limbah harus ada jaminan mutu dari IAEA.
Dalam pembangunan PLTN, keamanan merupakan salah satu faktor yang utama. Agar keamanan dapat terjamin sebuah reaktor harus dilengkapi dengan sarana pengontrol reaksi berantai dan sarana pendingin serta sarana pengolahan bahan bakar. Berbeda dengan reaksi kimia biasa, reaksi nuklir terjadi secara terus menerus/berrantai. Energi yang dihasilkan ditentukan dari kecepatan terjadinya pemecahan inti atom. Dalam mengontrol terjadinya reaksi ini, neutron yang mempunyai kecepatan tinggi harus diperlambat, hal ini dapat dilakukan dengan bahan yang disebut moderator. Beberapa contoh moderator adalah H2O (light water), D2O (heavy water, graphite dan lain-lain. Selain itu ada juga yang dinamakan absorber yang berfungsi untuk menyerap neutron seperti Baron, Xenon dan senagainya. Dengan cara mengontrol kadar moderator kita dapat mengontrol reaksi nuklir.
Sarana lain yang tidak kalah pentingnya adalah pengontrol panas dari reaktor. Sebuah reaktor nuklir akan bekerja normal apabila berada dalam keseimbangan panas (thermal equilibrium). Biasanya masalah ini dapat ditanggulangi oleh bentuk dan struktur reaktor itu sendiri yang memungkinkan panas dapat dialirkan dan dihilangkan secara alamiah. Perubahan beban kerja akan mempengaruhi reaksi sehingga akan mempengaruhi panas yang terjadi. Tetapi selama perubahan ini terjadi secara perlahan-lahan keseimbangan panas reaktor akan tetap terjaga. Dalam desain permulaan harus diperhitungkan perubahan panas yang terjadi pada saat-saat darurat, dalam hal ini mungkin diperlukan tambahan alat pendingin.
Bagaimana dengan Tragedi Chernobyl? Bukankah itu adalah bukti nyata tentang kecelakaan PLTN yang merenggut banyak nyawa?
Seperti yang diketahui bahwa PLTN Chernobyl dibangun pada saat Uni Soviet masih berdiri dibawah rezim komunis yang otoriter. Pembangunan PLTN tersebut sebenarnya tidak ditujukan untuk membangkitkan energi namun tujuan utamanya adalah memproduksi plutonium secara besar – besaran untuk digunakan sebagagai bom Atom. Sehingga pembangunanyapun tidak sesuai dengan standar yang ada pada waktu itu.
Kecelakaan terjadi pada reaktor nomor 4 pada malam 25-26 April 1986, sewaktu dilakukan percobaan. Percobaan yang dilakukan adalah untuk menguji apakah turbin dapat menghasilkan cukup daya untuk menjaga pompa pendingin tetap berjalan dalam kondisi kekurangan daya sampai generator kistrik (diesel) diaktifkan untuk mensuplai listrik ke pompa pendingin. Dalam melaksanakan percobaan, sistem pengaman dimatikan, daya reaktor diturunkan sampai 25 % dari kapasitasnya.
Percobaan di atas tidak berjalan dengan semestinya, reaktor tiba-tiba turun dayanya sampai kurang dari 1 %, selanjutnya daya dinaikkan dengan pelan-pelan. Akan tetapi 30 detik sejak dimulainya percobaan terjadi hal yang tidak terduga, daya reaktor naik dengan tiba-tiba, dan sistem emergensi untuk menghentikan reaksi berantai di dalam reaktor tidak berfungsi. Dalam hitungan detik, daya reaktor dan temperatur meningkat tanpa terkendali, terjadi ledakan, cungkup reaktor seberat 1000 ton terlempar. Pada temperatur 2000 derajat celsius batang bahan bakar meleleh. Grafit disekeliling bahan bakar di dalam reaktor terbakar. Selama teras reaktor meleleh, produk fisi terlepas ke atmosfir seratus kali lebih banyak dibandingkan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima. (sumber: http://www.chernobyl.info/)
Kecelakaan PLTN Chernobyl lebih disebabkan merupakan kesalahan manusia (human error), karena melakukan percobaan yang tidak memenuhi prosedur dimana terlalu banyaknya batang kendali (batang yang mengendalikan reaksi fisi di dalam teras reaktor) diangkat sekaligus, dan secara simultan dimasukkan kembali selama emergensi, tapi reaksi inti sudah tidak terkendali. Selain itu PLTN Chernobyl tidak memiliki cungkup ganda untuk menahan terlepasnya zat radioaktif ke atmosfir.
Ketika kecelakaan terjadi, ada kebakaran di reaktor dikarenakan pemanasan reaktor yang berlebih. Para pemadam kebakaran tidak diberitahu oleh siapapun bahwa yang dipadamkannya adalah sebuah reaktor nuklir dan merekapun tidak mengetahui mengenai bahayanya radioaktif. Sehingga mereka datang dan memadamkan api dengan tidak dilengkapi dengan peralatan yang seharusnya dipakai. Akibatnya Letnan Vladimir Pravik yang memimpin pemadaman api, akhirnya meninggal dunia.
Data terakhir (tahun 2005) yang dikeluarkan WHO dan IAEA menyebutkan bahwa kematian langsung yang diakibatkan kecelakaan tersebut berjumlah 56 orang, yang terdiri dari 47 orang pekerja yang memadamkan kebakaran, dan 9 anak anak. Kematian yang diakibatkan kanker diperkirakan 4000 orang.
Bertahun – tahun sesudah itu hampir tidak dijumpai kecelakaan serupa, ini dikarenakan PLTN yang ada sekarang berlipat – lipat lebih safety. Jadi mendasarkan Chernobyl sebagai senjata untuk menolak PLTN di indonesia bukanlah tindakan yang tepat karena banyak hal yang bisa diambil hikmah dari Chernobyl yang menjadi tonggak kemajuan IPTEK Nuklir, dimana para ahli meningkatkan kemampuan teknologi reaktor sehingga mampu menciptakan reaktor Nuklir yang lebih aman. Setelah 1,5 tahun dari kecelakaan Chernobyl, 3 unit reaktor Chernobylpun segera beroperasi kembali ini menunjukkan bahwa teknologi reaktor terus-menerus di kembangkan keselamatannya dan sampai hari ini tidak ada catatan kecelakaan pada unit 1, 2 dan 3 reaktor Chernobyl.
Bersambung…
Sumber
PLTN: Faktor Pencemaran Lingkungan dan Gangguan Kesehatan
Persepsi dan Penerimaan Masyarakat terhadap PLTN
Filed under: Energi Nuklir, Fisika, Sains dan Teknologi , Chernobyl, energi, Greenpeace, Jepara, Nuklir, PLTN








[...] Menolak PLTN? (Bagian 2) 10 Juni 2008 — Tedy Pada tulisan saya sebelumnya, saya telah membahas 3 prasangka negatif kebanyakan orang tentang teknologi yang satu ini. [...]
[...] Pada tulisan saya sebelumnya, saya telah membahas 3 prasangka negatif kebanyakan orang tentang teknologi yang satu ini. Sekarang, mari hirup nafas dalam – dalam, dan lanjutkan ke pertanyaan ke empat. [...]
[...] Comment! Tedy Tri Saputro*) Tedy Dalam Tulisan http://kliktedy.wordpress.com [...]