Tapi sekarang sudah 50 tahun dan kita mesti menuju sebuah masa dengan identitas nasional
Begitulah kutipan pernyataan Hermen Shastri, Sekretaris Eksekutif Federasi Kristen Malaysia, mengenai politik berbasis ras di malaysia, seperti yang saya baca di situs BBC Indonesia. Intinya adalah Hermen Shastri mengatakan bahwa sudah waktunya politik berbasis ras di malaysia diakhiri.
Mungkin ada dari kita yang baru sadar, ternyata malaysia menerapkan pola kebijakan politik rasis di negaranya. Sebut saja PAS yang merupakan partainya orang Melayu Islam, begitu pula dengan UMNO yang didukung umat Melayu Islam, begitupula MCA dan DAP yang didukung oleh orang etnis keturunan cina
Saya pernah ingat bahwa malaysia menerapkan beberapa kebijakan yang berbau rasisme di negaranya seperti kebijakan tentang memprioritaskan warga melayu miskin untuk mendapatkan pekerjaan, pendidikan dan rumah yang layak. Karena itulah banyak etnis – etnis lain yang mendapat perilakuan diskriminatif di negara tersebut. Diantaranya adalah etnis keturunan india yang November kemarin mengadakan demonstrasi besar – besaran.
Sejenak saya menjadi berpikir, wajar saja di malaysia terjadi banyak penyiksaan para TKI. Apakah mungkin pola pikir rasis sudah menjadi budaya disana???
Tapi di luar daripada itu, saya menjadi bangga dengan negara ini, yang mengedepankan kemajemukan dalam berbangsa dan bernegara. Bhineka Tunggal Ika, Meskipun berbeda ras, suku, agama, latar belakang sosial, semua adalah satu, yaitu bangsa Indonesia.
Majulah negaraku, majulah bangsaku, untuk Indonesia Raya….
Filed under: Sosial Politik , Cinta, Indonesia, malaysia, Politik, rasis, tedy tri saputro







