Setelah membaca sebuah tulisan dari seorang blogger yang berjudul Pak Harto adalah Pahlawan Bukan Pecundang . Sayapun ingin menuliskan pendapat saya tentang tulisan tersebut dan mengemukakan pendapat saya di blog ini. Mungkin pandangan saya kurang tepat dan tiap – tiap orang berhak memberikan penilaiannya terhadap saya, toh ini negara demokrasi, dan karena itulah tiap orang berhak memberikan penilaiannya masing – masing berdasarkan sudut pandang mereka. Tapi saya yakin, semua orang dari kita – meskipun berbeda pendapat – tetap menginginkan yang terbaik untuk negeri ini. Seperti apa yang dikatakan Maulana Jalaluddin Rumi :
Pemahaman bersama muncul dari membicarakan kebijaksanaan yang sama
Bukan berbicara bahasa yang sama,
Lebih baik berbagi satu hati, daripada satu lidah
Saya memulai tulisan saya dengan judul yang mungkin sangat kontroversial bagi kebanyakan orang yang anti – Pak Harto. Saya adalah Produk Orba. Judul ini mungkin langsung bisa digugat, kenapa di saat orang meneriakkan reformasi dan meneriakkan anti orba, kemudian tiba – tiba ada orang yang bukan siapa – siapa yang bangga menyatakan dirinya adalah produk Orba. kenapa??
Saya hanya ingin realistis disini, saya memang bukan siapa – siapa dan bukan apa – apa. Tapi yang jelas, saya sama sekali tidak ingin melupakan jasa siapapun kepada saya, meskipun orang itu – mungkin punya banyak kesalahan. Saya lahir di Tahun di mana waktu itu Pak Harto menjabat sebagai presiden RI. Orang tua saya yang nota bene bekerja di kepolisian, tentu menerima gaji dari negara, yang tentu dengan gaji itulah saya bisa hidup sampai sekarang. Saya menikmati fasilitas sekolah dari negara, jalan raya, fasilitas umum dan lain – lain. Atas jasa siapakah semua itu? Tentu atas jasa orang – orang yang memerintah negeri ini. Siapakah yang memerintah negeri ini waktu itu? Jawabnya Pak Harto tentu. Tulisan ini saya tulis tentu bukan bermaksud untuk mengecilkan jasa – jasa orang lain yang mungkin lebih berjasa dari Pak Harto. Seperti Pahlawan – pahlawan Kemerdekaan negara ini, ataupun para Founding Fathers negara ini.
Mereka semua telah berjasa terhadap negara ini, tidak terkecuali Mantan Presiden Soeharto. Mantan Presiden yang satu ini selama dia memerintah, banyak sekali prestasi yang dia raih, seperti suksesnnya program Keluarga Berencana yang berhasil mengatasi ledakan penduduk, menjadikan negara kita ini sebagai negara surplus beras, sehingga memungkinkan negara ini mendapat penghargaan oleh FAO karena keberhasilan kita mengubah diri dari negara yang semula sangat tergantung dari impor beras negara lain, menjadi negara yang mampu mengekspor beras ke negara lain.
Tidakkah kita ingat dengan nasi yang telah kita makan? Pendidikan yang telah kita dapatkan? dan semua yang telah kita peroleh pada masa orde baru, akankah kita lupakan semua itu? Akankah kita menjadi bangsa yang tidak tahu terimakasih? Akankah kita menjadi bangsa yang tidak bersyukur? Saya pernah mendengar ada orang – orang yang sangat anti dengan dengan apapun yang berkaitan dengan Orba. Tentu saya akan sangat respect kepada mereka kalau seandainya mereka konsisten. Jika mereka konsisten dengan prinsip yang dia pegang, pasti dia tidak akan mau bersekolah SD, SLTP, SMA, bahkan ke perguruan tinggi. Bukankah semua itu adalah produk Orba? Mereka tentu tidak akan mau mengurus KTP, mengurus SIM, atau bahkan menabung di BANK pemerintah sekalipun. Bukankah semua tata administrasi, keuangan dan sebagainya yang kita dapatkan sekarang adalah produk Orba? Dan tentu seandainya mereka konsisten, mereka tidak akan pernah mau tinggal di kota atau bahkan di desa yang telah tersentuh listrik disana, mereka juga tidak akan mau melewati jembatan, dan mereka pasti akan tinggal di hutan – hutan dan di samudera yang luas disana. Namun sampai sekarang, saya belum pernah melihat orang yang konsisten semacam itu dengan prinsipnya. Apakah anda ingin memulainya ?
Mungkin Pak Harto punya salah selama dia memerintah negeri ini, wajarlah. Apakah diantara kita ada yang merasa bersih dari dosa? Saya disini sama sekali tidak ingin mengungkit – ungkit apa – apa saja kesalahan Pak Harto yang telah beliau lakukan selama menjadi Presiden negara ini, karena saya sendiri – tidak merasa pantas – untuk mengungkit – ungkit kesalahan beliau atau bahkan menghujatnya, karena saya bukanlah apa – apa dan bukanlah siapa – siapa. Saya adalah MahklukNya yang banyak sekali dosa dan hina di hadapanNya. Apakah hak saya untuk menghujat Pak Harto? Apakah di Mata Allah saya lebih baik dari Pak Harto? Apakah saya punya sedikit dosa dibanding Pak Harto? Apakah saya lebih banyak Pahalanya dibanding yang dilakukan Pak Harto? Ada hak apa saya mengutuk Pak Harto? Apakah ada jaminan bagi saya untuk Masuk Surga? Apakah saya sudah pasti terhindar dari siksa neraka? Saya teringat tentang sabda Rasulullah, yang kira – kira begini Bahwa Surga hanya berjarak sejengkal dari kita, begitu pula neraka pun berjarak sejengkal dari kita. Jadi selama kita hidup, kita tidak akan pernah tahu dengan apa yang kita dapatkan sampai kita mati nanti, Khusnul khotimah? ataukah suul Khatimah? Meskipun kita berbuat amal sholeh di dunia namun bila kita mati dalam keadaan berbuat Maksiat, maka sia – sialah amalan ibadah kita selama hidup. Namun seandainya ada seseorang yang telah melakukan banyak dosa dan maksiat, namun orang itu mati saat dia bertaubat dan melakukan amal shalih, segala dosanya pastilah akan diampuni oleh Allah. Saya pun teringat tentang kisah seorang pelacur yang diampuni segala dosanya oleh Allah, hanya karena memberi makan seekor anjing yang kelaparan.
Itulah alasan saya tidak ingin menghujat Pak Harto. Seandainya dia punya salah dan dosa biarlah itu menjadi urusan penegak hukum di negara kita – yang sudah menjadi tugasnya menegakkan hukum di negara ini. Saya yang bukan penegak hukum dan bukan apa – apa di negara ini, hanya ingin mengenang jasa dan kebaikan Pak Harto sebagai seorang Pahlawan di negeri ini. Dan jika dia punya salah terhadap bangsa ini selama dia menjabat sebagai presiden, saya selaku pribadi, sudah memaafkannya. Kenapa? Karena – seperti yang sudah saya katakan tadi – Apakah hak saya untuk tidak memaafkan Pak Harto sedangkan saya sendiri punya banyak dosa kepadaNya? Mungkin dengan memaafkan dosa Pak Harto, Allah pun akan mengampuni dosa – dosa ku.
Tapi toh ini negara demokrasi, bagi anda yang merasa lebih suci dari pak Harto, merasa tidak punya dosa, merasa telah dijamin masuk surga, merasa tidak akan masuk neraka, merasa lebih mulia di hadapan Allah, tentu berhak untuk melakukan apa yang anda anggap benar.
Namun ada hikmah tercecer yang perlu kita renungkan
Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seseorang tidak beriman hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
Nabi Muhammad SAW
Tulisan ini sekaligus tanggapan terhadap
PAK HARTO Ucapkan Terimakasih karena…!!
Soeharto dan Penyakit Obsesif Kompulsif
Filed under: Perenungan, Sosial Politik , Orde Baru, Pak Harto, Perenungan, Soeharto, Sosial Politik








Ah, sejuk nian tulisan sampeyan, Saya ikut merasa diingatkan. Saya dulu ikut menjadi aktor penggerak demo menuntut diturunkannya pak Harto dari tampuk kepresidenan, sekalipun saya adalah pengagum beliau, sampai sekarang. Mungkin agak aneh ya…? Mudah-mudahan bangsa ini bisa bersikap arif dalam memperlakukan beliau. Saya memohon kepada Allah, agar beliau diberikan yang terbaik oleh-Nya. Diampuni setiap kesalahannya dan diterima semua amal kebaikannya.
Tulisan Anda diatas tentu saja didasari oleh ‘melakukan apa yang anda anggap benar’.
Apakah kalimat “bagi anda yang merasa lebih suci dari pak Harto, merasa tidak punya dosa, merasa telah dijamin masuk surga, merasa tidak akan masuk neraka, merasa lebih mulia di hadapan Allah, tentu berhak untuk melakukan apa yang anda anggap benar” juga berlaku bagi Anda?
Mohon maaf bila saya salah,
Salam,
@Ram – Ram Muhammad….
Amiin….
@Rumahkayubekas
hm..
semoga tulisan saya bukan hanya didasari melakukan apa yang saya anggap benar…tapi melakukan apa yang Allah anggap benar…
saya cuman menulis dan mengajak…cukuplah kita menghujat orang lain , karena negara ini tidak akan maju dengan cacian dan hujatan….sudah waktunya kita beranjak dari perilaku negatif ini menjadi perilaku yang positif
seperti yang saya tulis di atas ….pernyataan saya didasarkan…atas tidak ada hak bagi saya untuk menghujat pak harto….karena juga punya banyak dosa, saya tidak tahu apakah saya lebih mulia dari pak harto atau tidak…jadi bagaimana saya harus menghujat?
dan yang dimaksudkan dengan
“bagi anda yang merasa lebih suci dari pak Harto, merasa tidak punya dosa, merasa telah dijamin masuk surga, merasa tidak akan masuk neraka, merasa lebih mulia di hadapan Allah, tentu berhak untuk melakukan apa yang anda anggap benar”
adalah ditujukan untuk orang yang merasa dirinya lebih baik dari Pak harto di hadapan Allah…sehingga dia bisa leluasa menghujat sesama Mahkluk Allah yang dia pandang lebih rendah dari dia
sedangkan saya merasa tidak ada hak untuk menghujat Pak Harto…
tentu dasarnya adalah berseberangan
Maaf bila tulisan saya diatas menyinggung…
Tidak ada niatan sama sekali untuk menyinggung individu…saya hanya mengajak agar kita beranjak dari kebiasaan buruk ke kebiasaan yang baru yang lebih baik….agar negara ini tidak melulu kena bencana,,,
iyap semua nyang menikmati saat2 soeharto berkuasa, semuanya produk orba
reformasi yang kebablasan mas..
semoga tulisan saya bukan hanya didasari melakukan apa yang saya anggap benar…tapi melakukan apa yang Allah anggap benar…
Semoga ya semoga demikian buat kita semua, Amin Ya Robbal alamin,
@Abeeayang
nah itu yang gw maksud…
@Brainstorm..
Semoga reformasi membangun negara kita ke arah yang lebih baik
@Rumahkayubekas
Amiin juga…
terimakasih atas komentarnya ya bung…
doa saya semoga apa yang terbaik untuk pak Harto dan bangsa ini yang terjadi
saya mengundang anda untuk membaca tulisan ini
http://realylife.wordpress.com/2008/01/12/maaf/
terima kasih
@realylife
Amiin…makasih wat komentarnya
Tapi toh ini negara demokrasi, bagi anda yang merasa lebih suci dari pak Harto, merasa tidak punya dosa, merasa telah dijamin masuk surga, merasa tidak akan masuk neraka, merasa lebih mulia di hadapan Allah, tentu berhak untuk melakukan apa yang anda anggap benar.
^^^^^^^^^
hehehe.. kirain mau bener2 bersikap demokratis, tetapi rupanya masih menghakimi juga. Jadi anda mencap orang2 yang tidak rela memaafkan Pak Harto itu pasti merasa dirinya lebih mulia dari Pak Harto? Jaka sembung dee…
Misal ya, anda yg mengaku tidak mulia, kalau ada seseorang yg membunuh saudara anda, terus dia tidak pernah dihukum karena dia selama ini berada di atas hukum; apakah anda pasti memaafkannya karena alasan anda tidak lebih mulia dari si pembunuh?
apakah kita semua harus memaafkan korupsinya para ex dan existing pemimpin kita karena kita “tidak lebih mulia dan belum tentu masuk surga”?
Jika anda pernah dizoliminya, dan hukum belum ditegakkan untuk itu, dan sekarang anda belum mau memaafkannya (apalagi dia tidak pernah meminta maaf), apakah anda tiba2 hilang haknya untuk tidak memaafkan sampai keadilan ditegakkan hanya karena cap bahwa “tidak memaafkan = merasa lebih suci”?
Kalau begitu, buang saja semua UU negeri ini..
Ngomong2 soal keadilan, cobalah anda juga berdiri di posisi orang2 yang terzolimi. Dan jangan ad-hominem terhadap pendapat yang berbeda.
Setuju jika kita tak usah buang energi besar buat ribut2 soal Pak Harto, karena itulah: tegakkan hukum secara adil, sederhana dan secepatnya. By then, this nation can move on.
SARS menggejala lagi
SARS (Sindrom Aku Rindu Soeharto)
welgedewelbeh
Sebuah tulisan yang menarik dan terasa kuat aroma niat baik yang terkandungnya. Namun demikian mulut punya beberapa bahan renungan dan saran buat adek Tedy.
Menjadi pemimpin – apalagi pemimpin bangsa dengan penduduk ratusan juta – itu tidaklah sama dengan hanya menjadi orang biasa-biasa saja. Secara tanggung jawab sosial dan personal, tidak saja ia harus bertanggung jawab kepada yang dipimpin akan tetapi juga kepada Yang Maha Kuasa. Perbandingan antara tanggung jawab pemimpin dan yang dipimpin, secara sosial, mungkin bisa diibaratkan antara segentong air dan setetes air.
Pada para pemimpin, hak untuk membuat aturan diberikan, hak untuk menarik pajak yang triliunan itu dilimpahkan, hak untuk memanfaatkan harta negara beserta segala kekayaan alamnya diserahkan, hak untuk menghukum dan mengadili orang lain disematkan. Tentu saja, segala keputusan dan tindak tanduknya akan berdampak luas dan dalam pada kehidupan masing-masing individu yang dipimpinnya.
Memang Pak Harto harus dihormati atas segala jasanya. Tidak boleh dihujat dan dinistakan sebagai manusia dan manta pemimpin kita. (teringat ketika dahulu mulut menangis saat berada di tengah lautan pendemo Suharto 1998, saat dimana kebencian diberi tempat yan gterlalu jauh melampaui batas kemanusiaan). Namun kebenaran harus selalu ditegakkan. jadi untuk kasus beliau, tetap saja harus melalui pengadilan dulu, dengan agenda utama mengatakan mana yang benar dan mana yang salah, pengadilan dengan salah satu agenda utama adalah pengembalian kekayaan negara yang dipakai tidak secara semestinya. Setelah segala kesalahan klir dan diputuskan di pengadilan, boleh saja bangsa ini memaafkan.
Mem-peti-es-kan kasus beliau secara serampangan juga bukanlah tindakan bijak. Itu seperti mengirimkan pesan yang salah pada generasi-generasi sesudah kita. Seakan-akan kita berkata bahwa keadilan di negeri ini selalu bisa ditawar, selalu pandang bulu. Orang kecil mencuri ayam, digebukin bahkan ada yang sampai mati. Kalau orang besar, mantan presiden bisa lepas begitu saja tanpa proses pengadilan yang memadai. Kalau keadilan sudah begini (paling tidak secara idealita – meski bukan secara praktis) maka akan segera hancurlah negeri ini.
Saran buat adek: Teruslah berkarya sambil belajar sambil tetep kukuh memegang idealisme dan pikiran yang positif-optimis terhadap bangsa. Anak-anak muda seperti adek ini adalah cerminan masa depan Indonesia yang gemilang. Mungkin perlu adek pertimbangkan untuk mempelajari berbagai logical fallacy sehingga analisa adek bisa lebih tajam, kritis dan komprehensip. Apa adek sudah baca buku “Rekayasa Sosial” karya Jalaludin Rahmat?, kalau sudah sukur alhamdulillah, kalo belum baca deh insya Allah ada ilmu yang bermanfaat.
Mohon maaf kalau tidak berkenan. Bravo Blogger Muda !!
@Anti-leviathan
hm…kalau anda berpikir dengan logis…bila ada orang menghujat orang lain…pasti dia sudah merasa lebih baik dari yang di hujatnya..padahal sekali-kali tidak…kita tidak tahu siapakah yang lebih mulia seorang maling ayam kah?atau seorang ulama…karena yang pantas menilai mulia atau tidak seseorang adalah Allah saja
Seandainya dia punya salah dan dosa biarlah itu menjadi urusan penegak hukum di negara kita – yang sudah menjadi tugasnya menegakkan hukum di negara ini. Saya yang bukan penegak hukum dan bukan apa – apa di negara ini, hanya ingin mengenang jasa dan kebaikan Pak Harto sebagai seorang Pahlawan di negeri ini
jadi jelas seperti yang saya tuliskan di atas…biarlah itu menjadi urusan penegak hukum
jadi anda harus bisa membedakan antara menghujat dan keadilan hukum…menghujat bukanlah sebuah keadilan
coba anda baca lebih seksama lagi…
terimakasih atas komentarnya
@Rezco
@Mulut
terimakasih untuk komentarnya…dan juga sarannya…
mohon bimbingannya…
hidup Pak Harto! Hehehe.
Jikalau kita memiliki kesalahan kepada si A, apakah kesalahan tersebut dapat termaafkan karena si B sudah memaafkannya?
salam kenal
Kita orang2 kecil, hanya bisa menonton TV dan merespon lewat blog.
Soal hidup dan mati, surga dan neraka, kita serahkan pada Allah saja.
Soal hukum, kita tonton saja.
Tapi kalo orang kecil seperti saya boleh berharap:
Soeharto harus tetap hidup untuk diadili, supaya semua pihak PUAS.
Ada orang yang beranggapan [secara tidak sadar] bahwa kalau kita berbuat baik atau mendoakan orang yang pernah jahat pada kita, adalah suatu perkara yang memalukan dan merugikan…
Itulah fikiran orang duniawi yang tidak pernah berfikir mengenai “bisnis akhirat”. Walhal Nabi kita [yang mestinya kita contohi] selalu membalas kejahatan dengan kebaikan.Tengoklah Abu Sufyan, Sayidina Umar bin Khatab, Khalid bin Walid…diantara mereka pernah membunuh kaum muslimin dan melecehkan agama ini, tetapi akhirnya mereka masuk Islam dan mendapat hidayah atas sebab kebaikan dan doa Nabi kita.Du’a is the power of mukmeen..!
Hidayah hanya milik Tuhan yang Maha Memberi Hidayah. Keadilan juga milik Tuhan. Kita sebagai manusia, berbuat baiklah selagi ada nyawa…
Salam kenal mas Tedy..makasih sudi mampir di blog saya..
@Guebukanmonyet
@Sabix
salam kenal juga…
hm..kalo punya salah ama si A…ya si A yg harus maapin..ntar kalo yang maapin Si B…gak nyambung dunk…
kalo pak harto seandainya (mungkin) punya salah ama saya…saya sbgai pribadi udah maapin
bagaimana dengan anda?maukah anda memaafkan pak harto? tentu itu hak prerogatif anda?
tapi sebenernya kita tidak akan pernah rugi bila kita mau memaafkan orang lain
btw makasih wat komennya
@Anwarchandra
kalo secara hukum..kita serahkan aja pada penegak hukum
tapi kita tidak boleh menghujatnya
Hujatan tidak akan menghasilkan apa – apa
@Aboutmiracle
nah itu yang gw maksud mas…
sepakat dengan anda
salam kenal juga!!
Intinya, sikap yang terbaik adalah memaafkan suharto selaku individu yang tidak mungkin lepas dari kesalahan. Namun, jangan maafkan kejahatannya, setiap kejahatan yang dilakukan olehnya dan kroni2nya harus ditindaklanjuti secara hukum.
opini yang lebih lengkap disini
Harus diapakan Suharto
@kamal87
hm..yah yang penting jangan menghujat ataupun mencaci maki
dan jangan kesalahanya saja yang diburu…tapi jasa – jasanya juga patut dikenang…
Seandainya saja semua rakyat Indonesia sadar!!!!!
Tapi hidup kan nggak hanya “seandainya”???!!!!
Ada nggak sich manusia sempurna di dunia ini???? Menurut saya nggak ada tuch!!!!
Termasuk saya, Tedy, anda semua yg kirim komentar dan semua manusia di muka bumi ini!!
Jangan terus MENCACI, MEMAKI, DAN MENGHUJAT!!! Apakah anda semua sudah merasa sempurna sehingga melakukan yang demikian itu????? Introspeksi dong!!!!!!!!
Hanya Allahlah yang Maha Sempurna!!!!